1. Tradisi Bananagaan
- Naga Badudung
Naga Badudung adalah suatu bentuk naga yang dibuat dari kayu dengan leher tegak, kepala datar, mulut menganga, mata melotot dan lidah menjulur. Patung serupa sampai saat ini masih banyak disimpan oleh beberapa kelompok masyarakat di Hulu Sungai, dan dirawat secara berkala atau pada waktu tertentu 'diberi' kembang. Naga tersebut diletakkan di samping pelaminan pengantin, dipasang pada haluan perahu yang membawa pengantin, dibuatkan badan dalam upacara bananagaan (di Banua Halat, Tapin, dalam upacara Baayun Mulud), dipercaya di Hulu Sungai Tengah dan Hulu Sungai Selatan bahwa air siraman naga tersebut dapat menyembuhkan penyakit. Dalam upacara perkawinan, naga dianggap sebagai penolak bala, yang bisa menawarkan gangguan alam (angin ribut dan hujan lebat) dan simbol pengharapan agar mempelai tidak mendapat halangan dalam bahtera rumah tangga.
Sampung Kepala Naga Gambir Sawit adalah merupakan 'kepala' dari haluan perahu yang berbentuk patung kepala naga. Kepala haluan perahu dalam bahasa Banjar disebut sampung. Sampung Kepala Naga Gambir Sawit dipasang pada haluan perahu yang khusus dipergunakan membawa pembesar atau menteri Kerajaan Banjar. Bahan dari kayu dengan hiasan berupa pilin, daun, sulur, bunga, naga kecil dan tali pengikat 'kepala'.
Kepala Naga Darat adalah suatu bentuk kepala naga yang diletakan pada kendaraan pengantin pria yang diarak menuju pengantin wanita di alun-alun atau halaman rumah. Kepala naga ini dibuat dari kayu dengan hiasan berupa sisik, sulur daun dan bunga.
2. Tradisi Lisan
Tradisi lisan oleh Suku Banjar sangat dipengaruhi oleh budaya Melayu, Arab, dan Cina. Tradisi lisan Banjar (yang kemudian hari menjadi sebuah kesenian) berkembang sekitar abad ke-18 yang di antaranya adalah Madihin dan Lamut. Madihin berasal dari bahasa Arab, yakni madah (ﻤﺪﺡ) yang artinya pujian. Madihin merupakan puisi rakyat anonim bertipe hiburan yang dilisankan atau dituliskan dalam bahasa Banjar dengan bentuk fisik dan bentuk mental tertentu sesuai dengan konvensi yang berlaku secara khusus dalam khasanah folklor Banjar di Kalsel. Sedangkan Lamut adalah sebuah tradisi berkisah yang berisi cerita tentang pesan dan nilai-nilai keagamaan, sosial dan budaya Banjar. Lamut berasal dari negeri Cina dan mulanya menggunakan bahasa Tionghoa. Namun, setelah dibawa ke Tanah Banjar oleh pedagang-pedagang Cina, maka bahasanya disesuaikan menjadi bahasa Banjar.
3.






0 comments:
Post a Comment