BERDASAR ramalan suku Maya, tahun depan, bumi akan kiamat dengan adanya supernova (ledakan bintang di galaksi). Para pakar dari berbagai negara membantah ramalan itu dengan teorinya masing-masing.
Terlepas dari polemik itu, Fisikawan University of Southern Queensland, Australia, Brad Carter meyakini pads akhir tahun ini supernova itu terjadi, meski tidak menyebabkan kiamat. justru akibat ledakan itu, bumi akan memiliki 'dua'matahari. Pasalnya, bintang yang meledak itu adalah bintang paling terang di malam hari.
"Supernova itu akan menghadirkan pertunjukan cahaya yang paling terang sejak planet bumi terbentuk. Malam akan terang seperti Siang se-lama satu minggu hingga dua
minggu," ujar Carter, Minggu (23/1).
Bintang yang meledak itu adalah Betelgeuse --berada di konstelasi Orion-- yang berjarak 640 tahun cahaya dari
bumi. Saat ini bintang merah super-raksasa itu sedang menuju akhir hayatnya yang berupa ledakan.
Kapan itu terjadi? "Prediksi saya akhir tahun ini. Namun jika meleset, akan meledak beberapa juta tahun ke depan. Dia meledak jika kehabisan bahan bakar di tengahnya," tegas Carter.
Konon, nama Betelgeuse diambil dari Bahasa Arab Yad Aljauza (tangan Aljauza) yang menggambarkan sosok perempuan pengatur alam.
"Meski bisa dikaitkan dengan ramalan kiamat suku Maya, supernova:Betelgeuse itu tidak membahayakan bumi," kata Carter sebagaimana dikutip dari daily mail.
Meski mengamini penelitian Carter, pakar astronomi Amerika Serikat Phil Plait menyaksikan munculnya matahari kembar.
Pasalnya, Betelgeuse terbentang di jarak 625 tahun cahaya dari numi. Suatu wilayah di luar jarak ideal untuk menikmati siraman cahaya supernova sejauh 25 tahun cahaya.
Pada tahun lalu, para ilmuwan juga digegerkan oleh penemuan 'matahari kembar' oleh Badan Luar Angkasa Eropa (ESA). Fenomena itu tertangkap oleh Teleskop Herschel.
Dalam rekaman teleskop itu, ada bintang raksasa yang diperkirakan sebagai embrio bintang terbesar dan tercerah di galaksi dalarn ratusan ribu tahun mendatang,.
Calon bintang raksasa tersebut sudah memiliki massa sekitar delapan hingga sepuluh kali lebih besar dibanding massa matahari dan dikelilingi banyak material.
Bila gas dan debu berjatuhan di bintang tersebut, objek itu berpotensi menjadi salah satu objek raksasa dalam Galaksi Bima Sakti. Bin-tang itu juga diyakini bakal berpengaruh terhadap lingkungan.







0 comments:
Post a Comment